Rangkuman Kerajaan Padjajaran

Kalii ney, admin akann ngasih rangkuman seputar sejarah, semoga bermanfaat...


Kerajaan Padjajaran
            Latar belakang Kerajaan Padjajaran di Jawa Barat
            Setelah Kerajaan Tarumanegara runtuh, diketahui terdapat sebuah kerajaan di daerah Jawa Barat. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah candi di desa Cangkuang dekat Leles yang keberadaannya pastinya belum dapat diketahui, akibat dari data-data yang kurang untuk mengungkapkannya secara pasti. Para ahli berpendapat selain kerajaan Tarumanegara, terdapat sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Padjajaran, namun tidak dapat diketahui di mana pastinya lokasi kerajaan tersebut.
            Pakuan Padjajaran atau Pakuan (Pakwan) atau Padjajaran adalah pusat pemerintahan Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang selama beberapa abad (abad ke-7 hingga abad ke-16) pernah berdiri di wilayah barat pulau Jawa. Lokasi Pakuan Pajajaran berada di wilayah Bogor, Jawa Barat. Pada masa lalu, di Asia Tenggara ada kebiasaan menyebut nama kerajaan dengan nama ibu kotanya sehingga Kerajaan Sunda sering disebut sebagai Kerajaan Padjajaraan. Lokasi Padjajaran pada abad ke 15 dan abad ke-16 bisa dilihat pada peta Portuguese Colonial Dominions in India and the Malay Archipelago – 1498-1580 yang dapat dilihat pada link http://www.themapdatabase.com/category/location/asia/indonesia/ .
            Sumber utama sejarah yang mengandung informasi mengenai kehidupan sehari-hari di Pajajaran dari abad ke 15 sampai awal abad ke 16 dapat ditemukan dalam naskah kuno Bujangga Manik. Nama-nama tempat, kebudayaan, dan kebiasaan-kebiasaan masa itu digambarkan terperinci dalam naskah kuno tersebut.

             Kehancuran

            Pakuan Pajajaran hancur, rata dengan tanah, pada tahun 1579 akibat serangan pecahan kerajaan Sunda, yaitu Kesultanan Banten. Berakhirnya zaman Kerajaan Sunda ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana (singgahsana raja), dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana Yusuf.
            Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyong ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan Pajajaran tidak dimungkinkan lagi penobatan raja baru, dan menandakan Maulana Yusuf adalah penerus kekuasaan Sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri Baduga Maharaja, raja Kerajaan Sunda. Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa ditemukan di depan bekas Keraton Surosowan di Banten. Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang, berarti mengkilap atau berseri, sama artinya dengan kata Sriman.
            Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak. Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
Prasasti-prasasti dan kitab-kitab yang diperkirakan berasal dari Kerajaan Padjajaran
a.       Prasasti Rakyan Juru Pangamat (923 M) ditemukan di daerah Bogor, isinya mengenai pengembalian kekuasaan Raja Padajajaran
b.      Prasasti Heren yang menyebutkan bahwa penduduk dari Kampung Heren sering merasa tidak aman karena adanya gangguan dari arah barat
c.       Prasasti Astana Gede ditemukan di Kawali, Ciamis yang menyatakan tentang perpindahan pusat pemerintahan Pakwan Padjajaran ke Kawali
d.      Kitab Cerita Kidung Sundayana yang menceritakan kekalahan pasukan Padjajaran di Bubat (Majapahit) dan tewasnya Sri Baduga beserta istrinya
e.       Kitab Cerita Parahyangan yang menceritakan pengganti Raja Sri Baduga adalah Hyang Wunisora
            Dengan ditemukannya sastra-sastra peninggalan Kerajaan Padjajaran, dapat ditarik kesimpulan bahwa pengaruh Hindu yang berkembang di Kerajaan Sunda. Hal tersebut sudah tertanam sejak munculnya Kerajaan Tarumanegara pada awal abad 5 M yang diperkuat oleh “Arca Rajarsi” dan arca-arca dari Cibuaya dari abad ke 8 dan 9 M.

            Seperti tertulis dalam sejarah, akhir tahun 1400-an Majapahit kian melemah. Pemberontakan, saling berebut kekuasaan di antara saudara berkali-kali terjadi. Pada masa kejatuhan Prabu Kertabumi (Brawijaya V) itulah mengalir pula pengungsi dari kerabat Kerajaan Majapahit ke ibukota Kerajaan Galuh di Kawali, Kuningan, Jawa Barat.
            Raden Baribin, salah seorang saudara Prabu Kertabumi termasuk di antaranya. Selain diterima dengan damai oleh Raja Dewa Niskala ia bahkan dinikahkan dengan Ratna Ayu Kirana salah seorang putri Raja Dewa Niskala. Tak sampai di situ saja, sang Raja juga menikah dengan salah satu keluarga pengungsi yang ada dalam rombongan Raden Barinbin.
            Pernikahan Dewa Niskala itu mengundang kemarahan Raja Susuktunggal dari Kerajaan Sunda. Dewa Niskala dianggap telah melanggar aturan yang seharusnya ditaati. Aturan itu keluar sejak “Peristiwa Bubat” yang menyebutkan bahwa orang Sunda-Galuh dilarang menikah dengan keturunan dari Majapahit.
            Nyaris terjadi peperangan di antara dua raja yang sebenarnya adalah besan. Disebut besan karena Jayadewata, putra raja Dewa Niskala adalah menantu dari Raja Susuktunggal.
            Untungnya, kemudian dewan penasehat berhasil mendamaikan keduanya dengan keputusan: dua raja itu harus turun dari tahta. Kemudian mereka harus menyerahkan tahta kepada putera mahkota yang ditunjuk.
            Dewa Niskala menunjuk Jayadewata, anaknya, sebagai penerus kekuasaan. Prabu Susuktunggal pun menunjuk nama yang sama. Demikianlah, akhirnya Jayadewata menyatukan dua kerajaan itu. Jayadewata yang kemudian bergelar Sri Baduga Maharaja mulai memerintah di Pakuan Pajajaran pada tahun 1482.
Selanjutnya nama Pakuan Pajajaran menjadi populer sebagai nama kerajaan. Awal “berdirinya” Pajajaran dihitung pada tahun Sri Baduga Maharaha berkuasa, yakni tahun 1482.
̲̅̅ Kondisi Politik (Politik-Pemerintahan)
Raja-raja yang pernah memerintah Kerajaan Pajajaran, antara lain :
̲̅̅ Daftar Raja Pajajaran
·         Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertahta di Pakuan (Bogor sekarang)
·         Surawisesa (1521 – 1535), bertahta di Pakuan
·         Ratu Dewata (1535 – 1543), bertahta di Pakuan
·         Ratu Sakti (1543 – 1551), bertahta di Pakuan
·         Ratu Nilakendra (1551-1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf
·         Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati (Haji-Ri-Sunda)
·         Rahyang Niskala Wastu Kencana
·         Rahyang Dewa Niskala (Rahyang Ningrat Kencana)
·         Sri Baduga MahaRaja
·         Hyang Wuni Sora
·         Ratu Samian (Prabu Surawisesa)
·         dan Prabu Ratu Dewata.
̲̅̅ Puncak Kejayaan/ Keemasan Kerajaan Pajajaran
            Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan. Alasan ini pula yang banyak diingat dan dituturkan masyarakat Jawa Barat, seolah-olah Sri Baduga atau Siliwangi adalah Raja yang tak pernah purna, senantiasa hidup abadi dihati dan pikiran masyarakat.
            Pembangunan Pajajaran di masa Sri Baduga menyangkut seluruh aspek kehidupan. Tentang pembangunan spiritual dikisahkan dalam Carita Parahyangan.
            Sang Maharaja membuat karya besar, yaitu ; membuat talaga besar yang bernama Maharena Wijaya, membuat jalan yang menuju ke ibukota Pakuan dan Wanagiri. Ia memperteguh (pertahanan) ibu kota, memberikan desa perdikan kepada semua pendeta dan pengikutnya untuk menggairahkan kegiatan agama yang menjadi penuntun kehidupan rakyat. Kemudian membuat Kabinihajian (kaputren), kesatriaan (asrama prajurit), pagelaran (bermacam-macam formasi tempur), pamingtonan (tempat pertunjukan), memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan
            Pembangunan yang bersifat material tersebut terlacak pula didalam Prasasti Kabantenan dan Batutulis, di kisahkan para Juru Pantun dan penulis Babad, saat ini masih bisa terjejaki, namun tak kurang yang musnah termakan jaman.
            Dari kedua Prasasti serta Cerita Pantun dan Kisah-kisah Babad tersebut diketahui bahwa Sri Baduga telah memerintahkan untuk membuat wilayah perdikan; membuat Talaga Maharena Wijaya; memperteguh ibu kota; membuat Kabinihajian, kesatriaan, pagelaran, pamingtonan, memperkuat angkatan perang, mengatur pemungutan upeti dari raja-raja bawahan dan menyusun undang-undang kerajaan.
̲̅̅ Kondisi Kehidupan Ekonomi
Pada umumnya masyarakat Kerajaan Padjajaran hidup dari pertanian, terutama perladangan. Di samping itu, Padjajaran juga mengembangkan pelayaran dan perdagangan. Kerajaan Padjajaran memiliki enam pelabuhan penting, yaitu Pelabuhan Banten, Pontang, Cigede, Tamgara, Sunda Kelapa (Jakarta), dan Cimanuk (Pamanukan)
̲̅̅ Kondisi Kehidupan Sosial
Kehidupan masyarakat Padjajaran dapat di golongan menjadi golongan seniman (pemain gamelan, penari, dan badut), golongan petani, golongan perdagangan, golongan yang di anggap jahat (tukang copet, tukang rampas, begal, maling, prampok, dll)
̲̅̅ Kehidupan Budaya
Kehidupan budaya masyarakat Padjajaran sangat di pengaruhi oleh agama Hindu. Peninggalan-peninggalannya berupa kitab Cerita Parahyangan dan kitab Sangyang Siksakanda, prasasti-prasasti, dan jenis-jenis batik.
̲̅̅ Kesimpulan
·         Kerajaan Padjajaran adalah nama lain dari Kerajaan Sunda saat kerajaan ini beribukota di kota Pajajaran atau Pakuan Pajajaran (Bogor) di Jawa Barat yang terletak di Parahyangan (Sunda).
·         Sumber sejarahnya berupa prasati-prasati, tugu perjanjian, taman perburuan, kitab cerita, dan berita asing.
·         Kerajaan Pajajaran pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja mengalami masa keemasan/ kejayaan dan Kerajaan Pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajaan Sunda lainnya, yaitu Kesultanan Banten.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar